Tahun 2021 Sumut Butuh Sosok Polri Yang Mau Berantas Judi

Medan, Sumut (mediakomentar.com) – Masih banyaknya permainan Judi dengan memakai mesin ketangkasan dan juga judi togel di tahun 2020 yang tanpa ada di tangkapnya Bandar Judinya oleh aparat hukum, membuat lapisan masyarakat Sumut sudah mulai tidak mempercayai Polri selaku petugas hukum yang menjalankan tugasnya untuk menegakkan hukum.

Hal ini dapat dilihat dengan tidak adanya konfrensi Pers akan keberhasilan Polri yang telah menagkap Bandar Judi yang ada di Sumut. Padahal ini sangat berguna sekali sebagai efek jera bagi para Bandar judi yang lain atau orang yang mempunyai keinginan menjadi Bandar Judi.

Kegelisahan masyarakat tentang lokalisasi Judi yang ada di wilayah tempat tinggalnya, ditanggapi seakan kegelisahan yang semu saja oleh aparat hukum. Apalagi setiap melihat hasil kerja kepolisian yang menggrebek lokalisasi perjudian yang mendapatkan hasil nihil (tak ada aktifitas judi).

Padahal di lokasi tersebutlah yang selama ini menjadi lokalisasi judi yang sangat meresahkan masyarakat. Akhirnya masyarakatpun berfikir di pihak kepolisian ada oknum pengkhianat akan Tupoksinya sebagai seorang Polri. Sehingga masyarakatpun sudah mulai enggan untuk melaporkannya karena dianggap sia-sia saja.

jikapun ada, hanya mesin ketangkasan saja yang disita. Tetapi Bandar atau pengusaha judi tersebut tidak juga di tangkap. Kalau Judi jenis Togel sudah kayak rumput bisa tumbuh dimana saja dan sudah berulang kali di teriaki di Media.

Bahkan jika masyarakat hendak melaporkan kegiatan perjudian tersebut harus berfikir dua kali. Selain juga hasilnya tidak memuaskan, malah akhirnya ada oknum nakal yang menteror keselamatan diri dan jiwanya.

Begitu juga dengan para awak media. Disaat telah mempublikasikan kasus perjudian, yang didapat juga malah teroran dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan malah kegiatan perjudian tersebut tetap terus berjalan.

Kekesalan masyarakatpun memuncak dengan melakukan langsung penggerebakan dilokalisasi tersebut. Dan hasilnya, memang ada aktifitas tersebut.

Berikut dibawah ini beberapa video dan cuplikan yang dikutip dari beberapa media yang beredar di Media Sosial

Kemana Para inteligent Polri? Apakah dana DIPA tidak ada di pergunakan untuk pemberantasan Judi?

Rasa hidup nyaman bermasyarakat sudah terbalik. Dilihat dari sisi media, bahwa yang hidup nyaman adalah pelaku judi dan Bandar judinya. Dan masyarakat terancam keselamatan diri dan jiwanya jika melaporkan kegiatan perjudian tersebut. Dimana Polri sebagai Pengayom masyarakat?

Apakah judi saat ini sudah bukan merupakan tindakan kriminal dan tidak melanggar hukum? Padahal perkara judi masih diatur dalam Pasal 303 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) dan untuk perjudian online diatur dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”).

Jika pelaku  Judi sudah tidak lagi mau ditindak dan di proses secara hukum, ganti saja hukumnya dan judi jadi dilegalkan saja (resmi). Tetapi jika kegiatan judi masih illegal (tidak resmi), ganti saja aparat hukumnya karena tidak mampu ataupun tidak mau memberantas judi. Jangan hanya pelaku judi kelas bawah saja yang di tangkap. Jika disita uang disakunyapun hanya ratusan ribu rupiah saja.

Sebab sudah aneh apa yang telah terjadi di Sumatera Utara ini. Di Kab. Deli Serdang Sumatera Utara, Pemilik usaha judi pula berani melaporkan emak-emak yang telah merusak mesin ketangkasan judinya ke Polresta Deli Serdang. Semestinya disaat melaporlah polisi bisa menangkapnya, sebab yang melapor adalah pelaku tindak pidana krimal pasal 303 KUHP. Tapi malah diterima laporannya dan tanpa ada kejelasan tentang tindakan apa yang harus dilakukan untuk si pelapor.

Ditambah lagi teriakan para media yang mempublikasikan kegiatan judi tersebut berkali-kali bahkan ada yang mendapat perlakukan kasar dari oknum nakal beserta ancaman yang diduga ikut sebagai pelaku pengusaha judi tersebut.

Lebih aneh lagi penutupan lokasi judi yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dengan alasan Covid-19 dan bukan berdasarkan pasal 303 KUHP. Dan mendapat perlawan lagi oleh oknum yang berada di lokasi judi tersebut dengan melempari batu.

Pemberantasan judi di Sumatera Utara berbanding terbalik dengan pemberantasan Narkoba. Padahal kriminal Narkoba memiliki jaringan Internasional dan bahkan lokasinya pun tersembunyi. Tapi hal ini bukan suatu halangan dan bahkan sebuah tantangan bagi Dirt Narkoba Poldasu, sehingga para Bandarnyapun sudah banyak ketangkapan dan di konfrensi Perskan. Sehingga Dirt Narkoba Poldasupun mendapatkan aprus dan pujian dari Kapolri Bapak Idham Aziz.

Di Tahun 2021, Masyarakat Sumatera Utara sangat membutuhkan Para sosok Polri yang mau memberantas judi sampai ke Para Bandar Judinya. (*)

Penulis : Muhammad Arifin / Pimpinan Redaksi

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: