Tahun 2020, JUDI Bagaikan Jamur Tumbuh Subur di Sumut

Medan, Sumut (mediakomentar.com) – Judi suatu perbuatan yang dilarang agama dan juga dilarang oleh Pemerintahan. Di Negara Republik Indonesia terdapat beberapa peraturan yang mengatur mengenai perjudian, seperti yang diatur dalam Pasal 303 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) dan untuk perjudian online diatur dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”).

Sayangnya problem judi tidak terselesaikan sampai menumpas ke akar pemasalahannya. Seolah judi di kalangan masyarakat Sumatera Utara dipandang suatu perbuatan yang semi resmi hukum. Kasus-kasus terkait judi sering di publikasikan oleh media.

Bahkan ada juga awak media mendapatkan perbuatan kriminilisasi dari oknum yang tak bertanggung jawab diduga sering memberitakan judi. Seperti yang terjadi di Siantar dengan awak media berinisial “PS” dari Media Berantas Kriminal. Pemberitaan judi yang sering di publikasikannya adalah Gelper Tembak Ikan.

Bahkan pemberitaan di media terkait Judi Togel di Kota Siantar dan Kab. Simalungun selalu di publikasikan. Tetapi yang namanya dalang (Bandar) dari perjudian tersebut tidak pernah terdengar ditangkap oleh Aparatur Hukum Negara. Walau hanya beberapa waktu terhenti, Malah kegiatan judi Togel maupun Gelper terus tetap berjalan.

Sementara di daerah Medan dan sekitarnya, malah lokalisasi judi permainan tembak ikan sudah bukan rahasia lagi begitu juga dengan Togelnya. Seperti di Tanah eks HGU PTPN II Jl. Veteran pasar 7 Desa Manunggal Kec. Labuhan Deli Kab. Deli Serdang dll.  Di Lokalisasi ini, apapun yang bisa di jadikan judi akan di judikan. Baik itu Tembak Ikan, Dadu, Adu Ayam dll, dan jelas jika didalam lokalisasi Judi pasti ada Miras dan Narkoba.  Jika diberitakan hanya behenti sebentar lalu selanjutnya beroperasi lagi.

Lokalisasi yang begitu besar saja, Judi masih bisa aktif dan tidak pernah terdengar penangkapan Bandar Judinya. Apalagi di lokalisasi lain yang lebih kecil, jika masyarakat melapor bahkan awak media mengkonfirmasi ini ke aparat hukum jawabnya “akan kita diselidiki”.

Sifat APATIS masyarakat kepada aparat hukum pemerintah tentang penumpasan JUDI semakin besar bahkan lebih mengarah tidak percaya untuk mau di tumpaskan.

Hal ini cukup mendasar, sebab jika aparat hukum melakukan penggerebekan lokalisasi judi. Di lokasi tersebut sudah tidak ada kegiatan judi apapun. Bahkan menurut masyarakat sebenarnya ditempat lokasi itulah Gelanggang Permainan (Gelper) judi itu berlangsung. Jadi malah dianggap pula masyarakat yang memberikan laporan atau pemberitaan Palsu.

Didaerah Pantai Labuh Kab. Deli Serdang pernah viral di medos bahwa para emak-emak mengerebek lokalisasi judi. Sama halnya dengan yang terjadi dibantaran sungai Deli di Kec. Medan Labuhan. Para emak-emak juga melakukan penggerebekan ke lokasi tersebut. Dan memang di lokalisasi tersebut ada mesin ketangkasan judi.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jawabannya cukup jelas dikarenakan para suami ataupun anak-anak dari emak-emak tersebut jarang pulang kerumah dan memberikan biaya nafkah untuk keluarganya. Begitu juga dengan para anak-anak mereka yang jarang ada di rumah bahkan kadang harus membawa barang di rumah untuk dijual jadi modal judi. Itulah maka agama dan Pemerintah melarang Judi.

Mau dikatakan aneh atau lumrah (Hal yang biasa) tergantung siapa yang menilai. Disaat masyarakat melaporkan lokalisasi judi ke aparat hukum, jawabanya nanti diselidiki tapi tetap juga masyarakat tidak mendapat hasil yang memuaskan. Disaat digrebek oleh aparat hukum, lokalisasi tersebut malah kosong aktifitas judinya.

Tapi disaat di grebek emak-emak lokalisasi tersebut, ternyata memang ada permainan judi bahkan lengkap dengan peralatannya. Lah… apa dan siapa yang salah disini?

Begitu juga halnya dengan awak media. Disaat mempublikasikan tentang JUDI malah yang didapat ancaman dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Bahkan lebih mengarah kepada pengancaman keselamatan diri dan jiwanya.

Lebih miris lagi, ada pula rekan media yang mengatakan untuk tidak mempublikasikan kasus judi, malah menyuruh meminta bagian uang dari bandar judi tersebut.

Kacau sudah negara ini, andai kata jika awak media mau menerima uang dari bandar judi dengan imbalan tidak akan mempublikasikan kasus Judi tersebut. Lebih kacau lagi jika aparat hukum melakukan hal yang sama. Yaitu Menerima upeti dari bandar judi.

Sampai akhir tahun 2020 ini, redaksi belum mendengar kabar adanya penangkapan Para Bandar judi yang melakukan kegiatannya di wilkum Polda Sumatera Utara. Bahkan lebih parah lagi tidak adanya penggerebakan dari pabrik pembuatan Mesin ketangkasan judi seperti Jacpot maupun Tembak Ikan. Hanya pemain kecil saja yang tertangkap.

Seolah-olah mesin ketangkasan tersebut pabriknya berada di alam ghaib. Jadi payah untuk menggrebeknya. Sementara informasi didapat redaksi bahwa untuk pembuatan mesin ketangkasan tersebut berada di Kec. Medan Petisah Jl. S….dan Medan Sunggal Jl. Gat…. Tentu saja informasi ini belum berani kita pastikan benar atau tidak. Ancaman keselamatan diri dan jiwa lebih besar dan susah mendapatkan perlindungan secara hukum. Tetapi tak taulah, apakah aparat hukum sudah mendapatkan jawaban pasti akan hal ini benar atau tidaknya.

Selamat Tahun Baru 2021, Semoga Judi di Tahun 2021 tidak Tumbuh Subur Lagi di Sumatera Utara. Seperti intruksi Kapolda Sumatera Utara Bapak Irjen Martuani Sormin. Selamat Datang di Sumatera Utara. (red)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: