T. Hermansyah, AMP : Tuanku Agung Raja Ramunia Ke-II, Tuanku Alaidin Raja Ramunia Ke-III (7)

Medan, Sumut (mediakomentar.com) –   Pada Bagian Ke-6 dengan judul T. Hermansyah, AMP : Masa Raja Ke-I Merupakan Masa Keemasan Kerajaan Ramunia (6) yang menceritakan tentang Raja Ramunia Ke- I (Tuanku Tunggal) pada masa keemasan Kesultanan Serdang yang masa itu di pimpin oleh Sultan Thaf Sinar. Maka di bagian ke – 7 ini, masih nara sumber yang sama yaitu T. Hermansyah, (Sri Maharaja aja Ramunia Ke Sultanan Sedang) redaksi menceritakan tentang masa Raja Ramunia Ke-II yaitu Tuanku Agung Bin Tuanku Tunggal.

Untuk diketahui, Redaksi memberi tau ulang bahwa selain mengambil keterangan T. Hermansyah, AMP, Redaksi juga menggali informasi dari sumber yang lain yang bisa menguatkan pernyataan T. Hermansyah, AMP. Baik dari google maupun masyarakat sekitar lokasi Kerajaan Ramunia

Pada masa Raja Ramunia Ke-II yang  ber Kesultanan Serdang yang masa itu di Pimpin oleh Sultan Serdangnya T. Basyaruddin Syaiful Alamsyah banyak mengalami peperangan Demi membela Kesultanan Serdang. Baik Perang dengan Kesultanan Siak dan juga Belanda serta Inggris bahkan dengan Kerajaan Deli.

Untuk masa Tahunnya Redaksi masih merujuk pada masa Kepemimpinan Sultan Basyarauddin (Sultan Serdang) yaitu pada 1851 – 1879. Sebab di Makam leluhur Raja Ramunia tidak ada tanda tahunnya. Dan dikarenakan masa Kejayaaan Ramunia tidak terlepas dari Kesultanan Serdang. Di Yakini pada masa Sultan Basyaruddin, Ramunia mengalami pergantian Raja yaitu Tuanku Agung (Raja Ramunia Ke-II) dan Tuanku Alaidin (Raja Ramunia Ke-III).

Singkat cerita, akhirnya Kesultanan Siak menyerang kerajaan-kerajaan di Pesisir pantai Sumatera. Akhirnya baik kerajaan Serdang dan Deli bisa dikuasai Kesultanan Siak dan terhenti sampai di Langkat.

Dalam peperangan ini diyakini Tuanku Agung (Raja Ramunia Ke-II) meninggal dunia dan menurut T. Hermansyah AMP, makamnya berada di Kampung Belacan dengan nama Makamnya Keramat Gajah dan juga ada cerita berada di Desa Tengah Kec. Pantai Labu Kab. Deli Serdang Sumatera Utara satu lokasi dengan T. Alaidin (Raja Ramunia Ke-III) dengan para prajuritnya dan kerabatnya yang masa itu gugur karena perperangan.

Paska peperangan ini,  wilayah Kerajaan maupun Kedatokan yang berwajirkan Kesultanan Serdang mengalami pengurangan wilayah yang direbut paksa oleh Belanda walau dengan perjanjian. Lain lagi halnya dengan wilayah Denai yang dulunya masuk wilayah Kerajaan Serdang diambil alih oleh Kerajaan Deli. Wilayah Sei Tuan yang sebelumnya di pimpin oleh Tuanku Ali bin Tabjana diambil oleh Belanda.

Kelang tidak begitu lama, dikarenakan banyaknya mengalami peperangan dan juga konflig internal di Kerajaan Siak, membuat Kerjaan Siak semakin lemah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Belanda untuk menekan Siak agar Siak melepaskan sebagian wilayahnya kepada Belanda. Dalam hal ini termasuk wilayah Kesultanan Serdang, Deli dan Langkat.

Baik Serdang, Deli dan Langkat pada masa itu sudah lepas dari pengaruh pemerintahan Kesultanan Siak.

Dan selanjutnya baik Belanda maupun Inggris masing-masing mebuat perkebunan dari hasil lahan yang direbut dari tanah Raja-raja dan Kedatokan Kesultanan Serdang.

Dikarenakan  misi untuk menaklukan kerajaan-kerajaan pesisir pantai Sumatera sampai ke Aceh tertahan, akhirnya baik Belanda maupun Inggris yang masa itu ikut juga membantu peperangan membuat kantor bersama di Kerajaan Deli.

Setelah Kesultanan Serdang, Deli dan Langkat tidak dalam pengaruh Kesultanan Siak. Misi Belanda selanjutnya menekan Raja-raja maupun Datok yang berada di bawah Kesultanan Serdang agar memberikan tanahnya kepada Belanda yang dikenal dengan nama Surat Konsensi.

Sultan Basyaruddin (Sultan Serdang) akhirnya mengambil perannya sebagai juru runding(Perantara)  antara Belanda dengan Para Raja dan para Datok. Walau dengan berat hati akhirnya perjanjian itu dibuat dengan istilah Konsensai yang berarti dikelola Belanda dengan pinjam pakai dan bukan untuk dimiliki yang ditanda tangani Para Raja dan Dantok begitu juga dengan Belanda. Pada masa ini Kesultanan Serdang memiliki Raja Muda yang bernama T. Mustafa.

Karena yakin kalau Para Raja maupun Para Datok di Kesultanan Serdang tidak suka kepada Belanda dan tidak bisa diajak kerjasama, maka Surat Konsensi tersebut dibawa Belanda Ke Kerajaan Deli. Dan Bersama dengan Raja Deli, Belanda maupun Inggris membuka Perkebunan dari Surat Konsensi tersebut.

 

Makam Tuanku Agung dan Tuanku Alaidin

Untuk memastikan keberadaan Makam tersebut, Redaksi menelusuri Pemakaman tersebut yang berada di Desa Tengah Kec. Pantai Labu. Dan ternyata memang ada, dan sempat bertemu dengan Bang Jemmy yang mengaku di percayakan Tengku Hermansyah, AMP untuk mengurus makam tersebut, Sabtu (24/01/2021).

Makam Tuanku Agung dan Tuanku Alaidin. Lokasi Desa Tengah Kec. Pantai Labu Kab. Deli Serdang Sumatera Utara (Dok)

 

Menurut pengakuan pak Jemmy, bahwa dirinya belum lama dipercayakan Tengku Hermansyah (Sri Maharaja Ke-VII Kerajaan Ramunia)

‘Saya baru dalam bulan ini di percayakan dan di tugaskan T. Hermansyah mengurus dan merawat makam ini ( sambil menunjukkan Surat Tugasnya yang ada Tanda Tangan T. Hermansyah) beserta foto copy surat tanah lahan tersebut yang juga memiliki surat Pajak Bumi dan Bangunan(PBB) seluas 10.000 m2 (1 hektar). Memang sebelumnya saya terlebih dahulu bersama T. Hermansyah bersama-sama  kemari sembari menunjukkan Makam ini” Jelasnya

Selanjutnya, “ T. Hermansyah juga mengatakan keheranannya kepada saya terkait bisa ada pohon Sawit yang tumbuh dilahan Pemakaman serta adanya korekan tanah yang sudah berbentuk kolam. Siapa yang melakukan ini tanpa memberi tau bahkan permisi dari saya” Terang pak Jemmy menirukan bahasa T. Hermansyah.

Ditambahkannya lagi bahwa informasi yang didapat kalau yang menanam sawit yang bersuku Aceh begitu juga dengan kolamnya.

Untuk memastikan informasi tersebut, akhirnya Pak Jemmy mendatangi Kantor Desa Tengah Kec. Pantai Labu. Dan ternyata apa yang dikatakan T. Hermansyah memang benar.

“walau saya disuruh Tengku Hermansyah untuk mendirikan pondok sembari menjaga dan mengurus Makam, terlebih dahulu saya mendatangi Kantor Desa dan bertemu dengan Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kaur dan Kepala Dusunnya.  Mereka mengatakan bahwa lahan itu sudah dimiliki oleh orang Aceh dan dialah yang menanam sawit tersebut. Dan orang aceh tersebut bisa memilikinya karena dia beli.

“Pohon Sawit di lokasi makam itu yang menanam orang Aceh Pak, yang dia miliki dari dasar beli dan sempat mendirikan pondok beberapa tahun yang lalu. Sedangkan Pak Tengku Hermansyah hanya sebatas makam yang dipagari saja” ucap pak jemmy menirukan bahasa dari Sekretaris Desa.

Sempat saya terkejut dan bertanya kepada Sekretaris Desa.

Foto: Pak Jemmy di Lokasi Makam T. Agung dan T. Alaidin di Desa Tengah Kec. Pantai labu Kab. Deli Serdang.

 

“Tanah makam, kog bisa diperjual belikan Pak. Apa Alas Hak Surat yang dimiliki penjual itu kepada orang Aceh tersebut? Sementara Surat Tanah dari T. Hermansyah ada sama saya bahkan Pajak Bumi dan Bangunannya (PBB) diurus dan dibayarnya” Tanya pak Jemmy kepada Sekretaris Desa.

Dan menurut keterangan Pak Jemmy jawaban balasan pertanyaan tersebut pak Sekdes mengatakan agar mana baiknya saja (mengambang tak ada keputusan pasti).

Dalam keterangan kepada awak media Pak Jemmy mengatakan bahwa kedatangannya ke Kantor Desa Tengah untuk memberitau keberadaannya untuk menjaga dan mengurus Makam tersebut dengan dasar Surat Tugas yang ditanda tangani T. Hermansyah, AMP dan juga Surat Tanah dengan copy PBB (thn 2019) seluas 1 hektare yang sudah diurus dan dibayar T. Hermansyah. Agar dirinya tidak dikatakan penggarap maupun pendatang gelap dikampong orang lain.

Menanggapi persoalan penyerobotan maupun digarapnya tanah leluhur (oyang) T. Hermansyah yang alas suratnya masih dimilkinya dari pemberian Almarhum orang tuanya (T. Amri Mansyur/ Sri Maharaja Ke-VI) mengatakan…. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *