T. Hermansyah, AMP : Terkait Negri Ramunia, Asal Mula Nama Ramunia dan Kerajaan Serdang (3)

Medan, Sumut (mediakomentar.com) – Pada Bagian Cerita Pertama dengan judul T. Hermansyah AMP: Hubungan Erat Negri Ramunia dan Kesultanan Serdang (1) Kita sudah menceitakan tentang keberadaan sebuah Kerajaan Lama yang berada di daerah Pantai Cermin dan juga tentang keberadaaan Wilayah Ramunia.

Dibagian Ke-2 Redaksi menceritakan tentang Istilah Kerajaan dan Kesultanan dan masih dengan Nara Sumber yang sama yaitu T. Hermansyah, AMP (Sri Maharaja Ke-VII Kerajaan Ramunia Kesultanan Serdang). Dengan judul T. Hermansyah, AMP: Terkait Negri Ramunia, Istilah Kerajaan Dan Kesultanan (2)

Untuk bagian ketiga ini, Redaksi akan menceritakan asal usul nama Ramunia dan juga nama Kerajaan Serdang. Dan masih dengan nara sumber yang sama T. Hermansyah AMP (Sri Maharaja Ke-VII Kerajaan Ramunia Kesultanan Serdang) dan Keturunan Angku Maharaja Sutan Tanimang serta berdasarkan beberapa artikel yang sudah keluar dan terbit di google melalui wikipedia maupun media on line lainnya.

 

ASAL MULA KATA RAMUNIA

Berasal dari nama Tumbuhan:

Informasi yang bahwa kata Ramunia berasal dari tumbuhan dengan buahnya yang di beri nama Ramunia (Gandaria/Bouea macrophylla) dan rasanya asam-asam manis. Dan saat ini pohon Ramunia masih dapat atau di jumpai di Hutan Kalimantan. (telusuri Google untuk informasi yang detile)

Teluk Ramunia di Kota Tinggi Johor Lama Malaysia

Di Kerajaan Malaysia saat ini tepatnya di Kota Tinggi negara bagian Johor (Johor lama) ada sebuah perkampungan/wilayah dengan memakai nama Teluk Ramunia. Dan diwilayah ini juga ada sebuah Teluk di beri nama Teluk Ramunia. Kalau kita bandingkan dengan di Indonesia, wilayah Teluk Ramunia ibarat sebuah Kecamatan. Lokasi Teluk Ramunia ini berhadapan langsung dengan Pulau Bintan (Kepri/Indonesia), bersebelahan dengan selat singapor dan juga berbatasan dengan laut cina selatan dan laut Natuna. Di kota Tinggi inilah makam  Sultan Mahmud II (Sultan Johor di makamkan).

Wilayah Ramunia Kab. Deli Serdang Sumatera Utara

Di Indonesia ada juga nama suatu wilayah yang memakai kata Ramunia. Dan wilayah ini pada masa sebelum Indonesia merdeka menjadi sebuah kerajaan dengan nama Kerajaan Ramunia Kesultanan Serdang. Saat ini wilayah tersebut berada di beberapa daerah Kecamatan, seperti Kec. Pantai Labuh, Kec, Beringin dan bahkan sebagian wilayah Ramunia di jadikan perkebunan dimasa pendudukan Belanda dan nama perkebunannya yaitu perkebunan Ramunia. Kesemua wilayah ini berada Kab. Deli Serdang Sumatera Utara dan sekitarnya.

Bahkan keseluruhan wilayah Bandara Kuala Namo Internasional Airport (KNO) merupakan wilayah Kerajaan Ramunia. Dengan memakai wilayah Kec. Pantai Labuh, Kec. Beringin dan sekitarnya. Dan nama kelurahan disana juga memakai kata Ramunia.

Pertenyaannya yang muncul, apakah nama Ramunia yang ada di Kab. Deli Serdang ada hubungan sejarah dengan nama Ramunia yang ada di Johor Malaysia?

Menyangkut jawaban pertanyaan ini, redaksi mencoba menggali informasi dari beberapa sumber baik T. Hermansyah, AMP dan Keturunan Angku Maharaja Sutan Tanimang (red) serta beberapa sumber dari Media lain. Dan keterangan selanjutnya akan di tulis dibagian bawah cerita ini.

ASAL MULA NAMA SERDANG DAN KERAJAAN SERDANG

Ada Sebuah Tumbuhan Namanya Pohon Serdang

Pohon Serdang pada awalnya bernama latin Livistona Rotundifolia, namun pada September 2011 sejak diresmikannya genus Saribus untuk pertama kali, nama ilmiahnya menjadi Saribus Rotundifolius

Di Yakini masyarakat sekitar Rantau Panjang bahwa nama Kerajaan Serdang diambil dari nama Pohon Serdang tersebut. Dimana pada masa itu Pohon Sedang banyak tumbuh di hilir Sungai yang melintasi Rantau Panjang yang akhirnya dinamakan Sungai Serdang.

Awal mula Kerajaan Serdang 

Menurut hikayat, pada tahun 1720 M, Tuanku Paderap (raja Deli Ke-3) mangkat (meninggal dunia) dan memiliki 4 orang putra baik dari permaisuri maupun selirnya.

Ke empat putranya tersebut bernama Tuanku Jalaludin Gelar Kejuruan Metar, berasal dari keturunan bangsawan Mabar, Percut, dan Tg. Mulia. Tuanku Panglima Pasutan, berasal dari keturunan bangsawan Deli dan Bedagai. Kejeruan Santun, berasal dari keturunan bangsawan Denai dan Serbajadi. Tuanku Umar Johan Alamshah Gelar Kejeruan Junjongan dari bangsawan sampali.

Terjadi suatu gejolak internal di Kerajaan Deli untuk menduduki tahta Raja. Tuanku Jalaludin tidak berminat menjadi Raja, T. Kejuruan Santun dianggap tidak layak dikarenakan memiliki cacat dimata. Menurut Trah Raja selanjutnya, yang semestinya menjadi generasi penerus tahta adalah anak dari Permaisuri yaitu Tuanku Umar Johan Alamsyah (Kejeruan Junjongan) Sementara Tuanku Panglima Pasutan yang merupakan anak selir sangat berambisi menjadi Raja

Di Tahun 1723 M, Karena T. Umar Johan Alamsyah masih dianggap muda dan dibawah umur, maka dengan pertikaian tersebut dengan terpaksa keluar dari Istana Kerajaan Deli menuju ke Ramunia dimana tempat tinggal ibunya Tuanku Puan Sampali dan selanjutnya Tuanku Pasutan menjadi Raja Deli yang Ke-4.

Pengangkatan Tuanku Pasutan sebenarnya banyak tidak disenangi oleh Para Bangsawan Deli. Disebebkan, sebenarnya T. Pasutan tidak layak menjadi Raja Deli karena putra dari seorang Selir.

Seiring waktu berjalan, renggang waktu Tahun 1723 M s/d 1728 M, wilayah yang dulunya hanya sebuah kampung biasa menjadi berkembang semakin lebih baik lagi dengan jumlah penduduk dan perekonomiannya. Dan T. Umar Johan Alamsyah (Kejeruan Junjongan) juga semakin dewasa.

Di tahun 1728 Raja Urung Sunggal dan Raja Urung Senembah, bersama seorang Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu) datang menjumpai Ibu Suri dan T. Umar di Ramunia dengan tujuan untuk mengangkat T. Umar Johan Alamsyah menjadi Raja untuk sebuah kerajaan baru yang akhirnya diberi nama Kerajaan Serdang.

Hal ini dilakukan oleh keempat bangsawan tersebut, untuk menghindari pertumpahan darah dari perang saudara antara T. Umar Johan dengan Tuanku Pasutan (Raja Deli) demi perebutan Tahta Raja Deli.

Hal ini cukup mendasar sekali untuk dilakukan dengan alasan:

  1. T. Umar Johan Alamsyah (Kejeruan Junjongan) Memiliki darah dari Zuriat Trah Raja
  2. T. Umar Johan Alamsyah (Kejeruan Junjongan) Sudah Dewasa
  3. Telah muncul suatu kerajaan baru di Perbaungan yang masa itu di bawah pengaruh Kekuasaan Kesultanan Siak (1724). Wilayah Kerajaan yang berbatasan dengan Kerajaan Serdang. Kerajaan Serdang menjadi wilayah perbatasan Kekuasaan Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Siak

Jadi status T. Pasutan (Kerajaan Deli) dan T. Umar Johan Alamsyah (Kerajaan Serdang) sama-sama Raja dan Wajir (Wali/Wakil) dari Kesultanan Aceh. Pada masa itu Wilayah Kerajaan Deli dan Serdang didapat dari bekas wilayah Kerajaan Aru, di akibatkan Kerajaan Aru kalah perang dari Kesultanan Aceh

Dan Istana Kerajaan Serdang (Istana Bogok) berdiri di wilayah Negri Ramunia yang masih berbentuk sebuah Kampung Besar (Rantau Panjang) di bawah kepemimpinan Ibu Suri Tuanku Puan Sampali (Ibunda T. Umar Johan Alamsyah).

Jadi Raja Pertama dari Kerajaan Serdang adalah T. Umar Johan Alamsyah (Kejeruan Junjongan) Putra dari T. Paderap (Raja Deli Ke-3). Dan pada masa itu Kerajaan Serdang belum menjadi sebuah Kesultanan. Pemerintahan Kesultanan Kerajaan Serdang masih kepada Kesultanan Aceh sama halnya dengan Kerajaan Deli.

Perang Johor – Jambi yang dahsyat (1667 M)

Pada 4 April 1673 pada masa itu, perang besar terjadi antara Kerajaan Johor dan Kerajaan Jambi yang berujung pada kekalahan Kerajaan Johor.

Pada masa itu para bangsawan Johor semuanya bahkan Sultan Abdul Jalil Syah III (Raja Johor) juga ikut melarikan diri sampai ke hutan-hutan dan akhirnya sampai ke Pahang dan Tahun 1677 mangkat dan di makamkan juga di Pahang Malaysia. Bahkan para bangsawan Kerajaan Johor pada masa itu yang masih berniaga kenegri seberangpun, tidak bisa kembali ke Johor dengan ancaman di bunuh. Bahkan ada yang harus mengganti namanya untuk keselamatan diri dan keluarganya.

Sultan Abdul Jalil Syah III merupakan Raja Johor terakhir yang berasal dari Trah Raja Kerajaan Malaka. Selanjutnya Paska Perang tersebut Kesultanan Johor di pimpin dari Trah Raja dari Kesultanan Jambi.

Siapakah Putri Ramunia dan Puan Sampali (Ibu Suri Kerajaan Serdang)?

Menurut hikayat, sekitar akhir abad Ke-16 didaerah Ramunia di Kab. Deli Serdang Sumatera Utara (saat ini) pernah dipimpin seorang putri dari Kerajaan Johor dan di kenal dengan nama Putri Ramunia. Dan Ramunia saat itu hanyalah sebuah Kampung besar dan belum menjadi sebuah kerajaan.

Dari cerita yang didapat dari Para Nara Sumber dan juga dari beberapa media yang telah terbit, tidak ada yang menceritakan siapa sebenarnya Putri Ramunia dari Johor tersebut. Apalagi sampai digelar dengan nama panggilan Putri Ramunia dari Johor dan mengapa pula bisa berada di Tanah Serdang.

Dari sepenggal-sepenggal cerita yang didapat dari berbagai sumber, disini redaksi mencoba menyimpulkan (tetap membutuhkan rujukan yang pasti) bahwa Putri Ramunia sebenarnya putri dari seorang bangsawan Kerajaan Johor yang berniaga sampai ke Kerajaan Deli dimasa Sultan Abdul Jalil Syah III (Sultan Johor) dan tidak bisa kembali lagi ke Johor karena konflig perang Johor. Dan akhirnya menetap di Serdang (sampali Pantai Labuh)

Menurut nara sumber (red) bahwa daerah Pantai Labuh di namakan Ramunia oleh Bangsawan Johor dikarenakan rasa rindunya akan kampung halamannya yang bernama Ramunia. Bahkan putrinya yang lahir di Rantau Panjang di beri nama Putri Ramunia. Sambil memberi sinyal bahwa ada bangsawan Johor yang berasal dari Ramunia yang tinggal di Kerajaan Serdang.

 

Apakah Putri Ramunia ini dengan Tuanku Puan Sampali merupakan orang yang sama?

Sampai saat ini (Des 2020) Redaksi belum mendapat bukti tertulis akan keterkaitan tersebut demi untuk menambahkan bahan yang kuat sebagai rujukan.

Tetapi, jika di rujuk dari cerita para nara sumber yang mendapat cerita juga dari para orang-orang tua terdahulu, bahwa Putri Ramunia dan Tuanku Puan Sampali bisa dianggap merupakan orang yang sama.

(bersambung… Terbentuknya Kesultanan Serdang dan Kerajaan Ramunia)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: