T. Hermansyah, AMP : Terbentuknya Kesultanan Serdang dan Kerajaan Ramunia (4)

Medan, Sumut (mediakomentar.com) – Pada bagian ke-3 dengan judul T. Hermansyah, AMP : Terkait Negri Ramunia, Asal Mula Nama Ramunia dan Kerajaan Serdang (3). Diceritakan tentang adanya sosok yang bernama Putri Ramunia dan berdirinya Kerajaan Serdang.

Masih dengan nara sumber yang sama (T. Hermansyah, AMP Sri Maharaja VII Kerajaan Ramunia Kesultanan Serdang), Pada Bagian Ke-4 ini redaksi akan menceritakan sejarah terbentuknya Kesultanan Serdang yang mana sebelumnya hanya sebuah Kerajaan dan merupakan Wajir dari Kesultanan Aceh dan akhir menjadi Wajir Kesultanan Siak serta juga terbentuknya Kerajaan Ramunia.

Pada bagian sebelumnya diceritakan bahwa istana Bogak yang merupakan istana Kerajaan Serdang berdiri di Rantau Panjang Kec. Pantai Labuh dan masuk dalam wilayah Ramunia.

Wilayah Ramunia sendiri di pimpin ibu suri kerajaan Serdang (Tuanku Puan Sampali/Putri Ramunia) yang merupakan ibunda T. Umar Johan Pahlawan Alamsyah (Raja Serdang Pertama).

Sekilas disampaikan ulang tentang konflig yang terjadi di Kerajaan Deli. Dimana pada tahun 1720 M T. Paderap (Raja Deli Ke-III) Wafat, selanjutnya menimbulkan konflig perebutan tahta yang di menangkan T. Pasutan. Dan pada tahun 1723 T. Umar pergi dari Istana Deli ke Ramunia.

Informasi yang diterima Redaksi bahwa T. Umar Johan Alamsyah pergi dari Istana Deli bersama ibunya ke Ramunia. Informasi yang lain bahwa T. Umar Johan Pahlawan Pergi bersama kerabat yang setia menuju Ramunia tempat ibunya (Tuanku Puan Sampali) tinggal.

Terlepas dari mana yang benar dari kedua informasi ini, yang pasti T. Umar Johan Pahlawan Alamsyah keluar dari Istana Deli menuju Ke Ramunia (Rantau Panjang).

Selanjutnya pada tahun 1728 Raja Urung Sunggal dan Raja Urung Senembah, bersama seorang Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu) datang menjumpai Ibu Suri dan T. Umar di Ramunia dengan tujuan untuk mengangkat T. Umar Johan Alamsyah menjadi Raja untuk sebuah kerajaan baru yang akhirnya diberi nama Kerajaan Serdang.

Pertanyaannya adalah, dalam bentuk bangunan apa Tuanku Puan Sampali (Ibu Suri) dan T. Umar tinggal selama kelang waktu sebelumnya?

Ramunia merupakan sebuah kampung besar tempat Tuanku Puan Sampali lahir. Dan untuk beberapa kalangan bahwa Tuanku Puan Sampali juga orang yang sama dengan gelar panggilan Putri Ramunia. (cerita tentang T. Puan Sampali sudah ada di bagian ke-3 terdahulu).

Dikarenakan sebagai status permaisuri  dari Raja Deli ke 3 (T. Paderap), Tuanku Puan Sampali dibangunkan sebuah Puri  yang kedepannya dijadikan istana untuk Kerajaan Ramunia yang disebut Istana Tanjung Putri. Nama Tanjung Putri juga nama yang sama dari Puri tersebut.

Jadi di Puri inilah T. Umar Johan Alamsyah tinggal bersama ibunya, sebelum berdirinya Istana Bogok (Istana Kerajaan/Kesultanan Serdang) pada tahun 1728 M.

Memang sejarah terbentuknya Kerajaan Serdang menjadi sebuah Kesultanan (Kesultanan Serdang), tidak terlepas dari Kerajaan Perbaungan. Dimana Kerajaan Perbaungan pada masa itu juga dalam pengaruh kekuasaan Kesultanan Siak. Dan sejarah Kesultanan Siak juga ada berkaitan dengan Kerajaan Pagaruyung dan juga Kerajaan Johor.

Untuk kerajaan Perbaungan ini, redaksi hanya sekilas saja menceritakan berdasarkan sumber beberapa media yang sudah terbit saja. Sebab fokus disini hanya menceritakan tentang keberadaan Kerajaan Ramunia Kesultanan Serdang yang hampir terlupakan oleh zaman.

Untuk Kerajaan Perbaungan direncanakan akan diceritakan secara menditile setelah mendapat nara sumber yang siap bertanggung jawab. Sebenarnya kerajaan Perbaungan yang hanya terpisah oleh Sei Ular dengan Kerajaan Serdang, merupakan suatu kisah yang sangat menarik untuk di ungkap. Apalagi dari segi berbahasa ada perbedaan, walau tidak signifikan. Dimana di daerah perbaungan sampai Asahan penekanan bahasa seperti layaknya orang Minangkabau.

Pada tahun 1779 terjadi konflig di Kerajaan Siak. Dimana Sultan Ismail (sultan yang tergusur dari Pamannya Sultan Alam) yang merupakan Raja Siak ke-3, berniat mengambil tahta kembali dari sepupunya Sultan Muhammad Ali bin Sultan Alam/Raja Alam yang masa itu menjabat sebagai Sultan Siak yang ke-5.

Dengan melakukan penaklukan kerajaan-kerajaan yang dibawah Kesultanan Siak, Sultan Ismail berhasil merebut tahta sultan kembali. Salah satu kerajaan yang berhasil ditaklukan termasuk Kerajaan Perbaungan dan Serdang.

Kerajaan Perbaungan yang berdiri pada tahun 1724 oleh Panglima T. Abdul Jalil Rahmatsyah juga akhirnya menjadi korban penaklukan Sultan Ismail. Kerajaan Perbaungan sendiri sebenarnya dibawah Kesultanan Minangkabau. Tetapi dikarenakan Kerajaan Minangkabau dan Siak sebenarnya antara Bapak dan Anak, maka Kerajaan Perbaungan tidak ada masalah dengan Siak.

Namun sikap setianya terhadap Sultan Muhammad Ali, maka Kerajaan Perbaungan juga akhirnya di taklukan Sultan Ismail (Sultan Siak) untuk mendapatkan pengakuan.

Dalam satu kisah, Tuanku Ainan menjadi Raja Serdang pada tahun 1767 M. Sedangkan Tahun 1782 M, merupakan tahun kewafatan T. Umar Johan Pahlawan Alamsyah. Jadi dilihat dari tahunnya, T. Umar melepaskan Tahta Kerajaannya dan diserahkan kepada Putranya, disaat dirinya masih hidup.

Dalam perang dengan Sultan Ismail, Kerajaan Perbaungan mendapat bantuan dari T. Umar Johan Alamsyah (Raja Serdang) untuk melakukan perlawanan. Dikarenakan kalah, akhirnya baik kerajaan perbaungan maupun kerajaan serdang di bawah penaklukan Sultan Ismail (Raja Siak).

Sampai saat ini (Des 2020) belum mendapat informasi pasti tentang keberadaan Tuanku Puan Sampali. Apakah ikut meninggal atau tidak pada saat itu? Atau memang sudah meninggal sebelum T. Umar wafat. Yang pasti makam T. Puan Sampali saat ini masih belum ditemukan. Sedangkan menurut informasi lain yang didapat bahwa T. Umar di makamkan berdekatan dengan Tuanku Puan Sampali. Dan ada juga informasi yang didapat bahwa ada makam keramat ditengah perkebunan Sampali dan diyakini adalah makam T. Umar Johan pahlawan Alamsyah.

Sedangkan di kerajaan perbaungan sendiri redaksi belum mendapat kabar/cerita tentang Raja perbaungan masa itu (Panglima T. Abdul Djalil Rahmatsyah). Apakah wafat dikarenakan perang melawan Sultan Ismail atau tidak?

Kerajaan Perbaungan selanjutnya di Pimpin oleh Sutan Usally (Raja Perbaungan yang ke-2), sedangkan saudari Perempuannya Sri Alam menikah dengan T. Ainan Johan dan menjadi permaisuri Kerajaan Serdang.

Dimasa pemerintahan T. Ainan Johan, Raja Urung Sunggal kembali ke Kerajaan Deli. Ini dikarenakan Kerajaan Serdang bukan lagi Wajir dari Kerajaan Aceh melainkan sudah dibawah kekuasaan Kesultanan Siak. Sedangkan Raja urung senembah maupun  Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa) kembali juga ke kerajaan masing-masing dengan wilayah kekuasaannya tetap masuk dalam wilayah Kerajaan Serdang.

Jadi bisa dikatakan pada saat itu bahwa Kerajaan Serdang berkesultankan Kepada Kesultanan Siak. Selanjutnya adik kandung T. Ainan Johan Tuanku Tabjana di jadikan Raja Muda di Kerajaan Serdang oleh Kesultanan Siak.

Paska kembali Raja Urung Sunggal ke Kerajaan Deli dan begitu juga dengan Raja Urung Senembah maupun  Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa). Maka Tuanku Ainan Johan Alamsyah (1767-1817), membentuk Lembaga Orang Besar Berempat di Serdang yang berpangkat Wazir Sultan, yaitu:

  1. Raja Muda (gelar ini kemudian berubah menjadi Bendahara, wilayahnya Sei Tuan)
  2. Datok Maha Menteri (wilayahnya di Araskabu)
  3. Datok Paduka Raja (wilayahnya di Batangkuwis) keturunan Kejeruan Lumu
  4. Sri Maharaja (wilayahnya di Ramunia).

Pembentukan ke empat pembesar ini didasari Keinginan T. Ainan Johan kedepannya hendak merubah Kerajaan Serdang menjadi sebuah Kesultanan. Dikarenakan wilayah Kerajaan Perbaungan masuk dan bergabung menjadi satu wilayah dengan Kerajaan Serdang.

Penggabungan Kerajaan Perbaungan kepada Kerajaan Serdang dikarenakan T. Ainan Johan menikah dengan Tuanku Sri Alam yang merupakan Putri dari Kerajaan Perbaungan.

Sesuai dengan tradisi masa lalu, Pengangkatan seorang Sultan tidak bisa seseorang mengangkat dirinya sendiri menjadi Sultan. Harus ada proses persetujuan dari lembaga Besar. Fungsi Lembaga Besar ini yaitu: memilih dan mengangkat Sultan. Dan persis seperti MPR di masa Orde Baru.

Menurut beberapa Hikayat bahwa lembaga 4 orang besar ini mengangkat Sultan Pertama yaitu T. Ainan Johan. Tapi di hikayat lain bahwa yang diangkat Sultan Pertama adalah Tuanku Tabsinar bin Tuanku Ainan Johan setelah mangkatnya T. Ainan Johan bin Tuanku Umar Johan sebagai Raja Serdang yang Ke-II.

Hikayat lainnya bahwa T. Ainan Johanlah yang mendapat pengakuan Sultan dari Kesultanan Siak pada tahun 1814 M.

Terlepas dari hikayat mana yang benar yang pasti pada masa ini wilayah Ramunia yang dulunya hanya sebuah perkampungan besar berubah menjadi sebuah Kerajaan baru (Kerajaan Ramunia) dengan Istananya  bernama Tanjung Putri (sebelumnya merupakan tempat kediaman Tuanku Puan Sampali).

Raja Kerajaan Ramunia Pertama bernama Tuanku Tunggal dengan gelar Sri Maharaja Ke-I Kerajaan Ramunia Kesultanan Serdang. Dan makamnya berada disebelah kiri dekat pintu gerbang arah masuk ke Bandara Kuala Namo Internasional Airport Kab. Deli Serdang Sumatera Utara.

Lokasi Bekas Istana Bogok (Istana Kerajaan/Kesultanan Serdang)

Menurut informasi bahawa Istana Tanjung Putri (Istana Ramunia) dengan Istana Bogak (Istana Kesultanan Serdang) berada saling berdekatakan. Bahkan kata para orang-orang tua terdahulu bahwa kedua Istana tersebut berada di satu Lokasi yang sama.

Sayangnya, bekas situs Istana Tanjung putri maupun Istana Bogak hilang tak berbekas ibarat ditelan bumi.  Hanya ada sebuah rumah panggung saja yang dibelakangnya berdiri sebuah tower sebagai peninggalan bersejarah. Tetapi itupun tidak mengetahui, dimana sebenarnya istana Tanjung putri tersebut. Bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa Istana Tanjung Putri itu, sama dengan Istana Bogak.

Dan sebagai pewaris gelar Sri Maharaja Kerajaan Ramunia Kesultanan Serdang saat ini adalah Tuanku Hermasnyah, AMP dengan gelar Sri Maharaja Ke-VII Kerajaan Ramunia. Dan menurut T. Hermansyah, AMP bahwa orang Keturunan belum tentu bergelar, karena Gelar jabatan ini hanya Keturunan orang bangsawan tertentu yang terpilih berdasarkan adat istiadat yang berlaku. Apalagi untuk menyandang gelar Sri Maharaja Kerajaan Ramunia. Harus berdasarkan zuriat dan Trah Raja…. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: