T. Hermansyah, AMP : Masa Raja Ke-I Merupakan Masa Keemasan Kerajaan Ramunia (6)

Medan, Sumut (mediakomentar.com) – Pada bagian ke-5 yang berjudul T. Hermansyah, AMP : Tuanku Tunggal Sri Maharaja Ke-I Kerajaan Ramunia Kesultanan Serdang. Diceritakan bagaimana terbentuknya 4 (empat) orang pembesar yang dibentuk Tuanku Ainan Johan Alamsyah dan apa fungsinya.

Masih dengan sumber yang sama yaitu T. Hermansyah, AMP (Sri Maharaja Ke-VII Raja Ramunia Kesultanan Serdang). Dibagian ke-6 ini redaksi akan menceritakan secara sekilas tentang apa yang terjadi dimasa Raja Ramunia Ke-I (Tuanku Tunggal) yang berhubungan erat dengan Kesultanan Serdang.

Pada tahun 1817 M, 4 orang pembesar yang terdiri dari Tuanku Tunggal (Sri Maharaja Raja Ramunia Ke-I), Tuanku Tabjana (Raja Muda/Sei Tuan), Datok Maha Mentri (Aras Kabu) dan Datok Paduka Raja (Batang Kuis) menjalankan fungsinya dengan mengangkat Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah sebagai Raja sekaligus Sultan Serdang dengan memakai gelar “Sri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Thaf Sinar Basar Shah Sultan Kerajaan Serdang dengan Rantau, Jajahan, dan Takluknya”. Saat itu pula gelar Raja berganti menjadi Sultan. Dan masa pemerintahan Sultan Thaf Sinar terhitung mulai Tahun 1817 M s/d 1851 M.

Sebenarnya yang harus menjadi sultan adalah Tuanku Zainuddin (saudara tua dari Tuanku Thaf Sinar), tetapi dikarenakan Tuanku Zainuddin wafat sebelum menjadi Raja (Raja Serdang), maka anaknya tidak mempunyai hak untuk menjadi Sultan (sesuai adat istiadat Serdang). Karena syarat utama untuk menjadi seorang Sultan harus seorang Raja.

Sedangkan Tuanku Tunggal yang merupakan putera ke-III dari Tuanku Ainan Johan memang sudah diangkat menjadi seorang Raja. Tetapi nama kerajaannya adalah Kerajaan Ramunia dan bukan Raja dari Kerajaan Serdang. Ramunia merupakan salah satu kerajaan dibawah kekuasan Kerajaan Serdang/Kesultanan Serdang yang baru di bentuk.

Sedangkan di hikayat lain diterangkan bahwa Tuanku Ainan Johan meninggal pada tahun 1822 M, jadi pada masa pengangkatan Tuanku Thaf Sinar Menjadi Raja sekaligus Sultan Serdang, Tuanku Ainan Johan (Raja Serdang Ke-II) masih hidup.

Untuk lebih jelas, sebenarnya Raja Serdang Ke-I (T. Umar Johan Alamsyah) dan Raja Serdang Ke-II (Tuanku Ainan Johan Alamsyah) bukanlah seorang Sultan, melainkan hanya seorang Raja saja. Pada masa Raja Serdang Ke-I berSultankan Kesultanan Aceh. Sedangkan pada Raja Serdang Ke-II Bersultankan Kesultanan Siak. Tetapi banyak hikayat yang bercerita bahwa Raja Serdang Ke-I merupakan Sultan Serdang Ke-I Juga. Dan begitulah seterusnya.

Pada masa Sultan Thaf Sinar dengan didampingi 4 orang pembesarnya, Kesultanan Serdang menjalani masa keemasan. Dimana masa itu perdagangan di Serdang begitu Maju bahkan menjadi pintu gerbang perdagangan antar negara. Bahkan dengan sifat Sultan Thaf Sinar yang lembut dalam memimpin, Sultan Thaf Sinar banyak disayangi Rakyatnya.

Dan untuk wilayah Sei Tuan yang dipimpin Raja Muda Tabjana, dimasa Sultan Thaf Sinar berganti pimpinan dengan putranya yaitu Tuanku Ali bin Tuanku Tabjana.

Menurut pengakuan Sri Maharaja T. Hermansyah, AMP (Raja Ramunia Ke-VII) bahwa memang untuk menentukan tahun wafatnya Tuanku Tunggal (Raja Ramunia Ke-I) tidak diketahui. Bahkan Makamnya di batu Nisannya tidak tertulis apapun.

Masa keemasan Kesultanan Serdang ini, akhirya membuat khawatir Kesultanan Siak. Dimana sebenarnya kesultanan Serdang diakui oleh Kesultanan Siak, masih dalam wilayah kekuasaannya. Tetapi dikarenakan Kesultanan Serdang merasa tidak ada hubungan lagi dengan Kesultanan Siak malah menjalin hubungan lagi dengan Kesultanan Aceh. Akhirnya Kesultanan Siak bekerjasama dengan Belanda dan juga Inggris berencana menaklukan ulang Kesultanan Serdang bahkan berencana juga untuk menaklukan Kesultanan Aceh… (bersambung)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: