Polemik Pasar Marelan Medan (3) : Master Plane Ibarat Di Telan Bumi

Oleh : Muhammad Arifin / Pimpinan Redaksi

Medan (mediakomentar.com) – Minggu (19/01/20) Dilansir dari Gametechnoblog Sebuah Masterplan di institusi negara adalah peta perjalanan menuju masa depan. Ia merupakan dokumen panjang nan komprehensif yang menjadi panduan pengembangan dan pembangunan yang berdampak pada fasilitas publik di rentang lebih dari 10 hingga 20 tahun mendatang.

Masterplan tersebut ditujukan sebagai penunjuk keputusan yang jangkauannya bersifat publik sekaligus privat. Jangkauan itu akan berperan dalam hal pemanfaatan bentang alam (tanah, air, udara) serta penyediaan infrastruktur publik. Di situ pun ada bagian penyesuaian Masterplan dengan karakter lokasi dan sifat adaptifnya serta penggunaan sumber dayanya yang bertanggung jawab.

Penerapan anggaran belanja daerah (atau kebijakan lainnya) yang didasari oleh Masterplan umumnya akan menghasilkan keuntungan operasional antara lain:

  1. Menjadi referensi utama yang akan mengontrol pembuat kebijakan
  1. Memiliki kemampuan untuk membuat keputusan yang lebih informatif
  2. Budgeting dan perencanaan menjadi lebih prediktif
  3. Potensi untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya
  4. Pembangunan tetap mampu memelihara karakter komunitas masyarakat
  5. Potensial menghasilkan pengembangan ekonomi yang berdampak positif

Dengan adanya Masterplane kita sudah bisa menjawab pertanyaan seperti.

  1. Apa saja yang kita punya?
  2. Apa saja yang kita inginkan?
  3. Bagaimana kita mencapainya?

Kesemua pertanyaan tersebut harus sudah ada jawabannya. Jadi di sini jelas bahwa Masterplane bukan hanya sebuah solusi instan. Di dalamnya terdiri dari target, kebijakan, tata kelola penggunaan lahan, pembangunan hunian masyarakat, pengembangan ekonomi, sumber daya alam, ruang terbuka, rekreasi, fasilitas publik, pelayanan publik, hingga transportasi.

Informasi yang berhasil dihimpun awak media dari beberapa sumber , yang jadi masalah saat ini, sejak awal tahun 2018 Pasar Marelan Medan yang dibangun oleh Dinas Perkim Kota Medan yang terjadi adalah:

  1. Masterplane Pasar Marelan Medan ibarat hilang ditelan bumi (tidak pernah Nampak)
  2. Pasar Marelan Medan belum pernah diresmikan
  3. Tidak ada serah teriama Asset Bangunan dari Pemko Medan ke PD. Pasar Kota Medan
  4. Pasar Kota Medan Hanya dapat Hak Pengelolan Kontribusi dan prakteknya malah ikut menanggung biaya perawatan
  5. Dinas Perkim Kota Medan seolah seperti tidak ada urusan lagi dengan Pasar Marelan. Padahal serah terima asset dan bangunan tidak ada. Jadi sebenarnya sampai saat ini Pembangunan tersebut masih tanggung jawab Dinas Perkim Kota Medan
  6. Adanya organisasi Pedagang (P3TM) seperti beralih fungsi layaknya Kontraktor resmi di Pasar Marelan Medan
  7. Selalu terjadi kericuhan di Pasar Marelan Medan dengan melibatkan Pemko Medan, PD. Pasar Kota Medan, P3TM, IPPM dan terakhir APPSINDO pun terbawa-bawa.

Dengan tidak pernah munculnya Masterplane Pasar Marelan Medan ke Publik, seolah kekisruhan yang terjadi seperti diciptakan dan dibiarkan. Apalagi masih adanya lahan kosong yang belum terbangun, bisa menjadi ajang Kolusi dan korupsi dan mungkin perkelahian antar pedagang juga akan muncul dan bisa menimbulkan korban nyawa.

Sebab lahan kosong tersebut bisa dibangun berdasarkan selera sendiri baik bentuk dan harga yang tidak sesuai dengan Masterplane. Jadi hal ini diduga bisa menimbulkan indikasi Kolusi dan Korupsi dengan memanfaatkan fasilitas dari Negara untuk kepentingan pribadi dan ataupun golongan.

Jadi sebenarnya Masterplane itu sangat penting sekali.

  1. Apakah bangunan Pasar Marelan Medan yang sudah berdiri saat ini sesuai dengan anggaran biaya dan juga bentuknya sesaui dengan Masterplane?
  2. Bisa menjaduan acuan Masyarakat pedagang, Anggota DPRD dan Pemko Medan jika mengadakan RDP
  3. Salah satu bahan Audit yang sangat penting bagi Inspektorat, BPK dan KPK. (red)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: