Pantai Cermin Bergejolak, Masyarakat Sudah Tertipu dan Terzholimin (3)

Sergai, Sumut (mediakomentar.com) – Pada Edisi yang ke dua dengan judul “Pantai Cermin Bergejolak, Pondasi Theme Park Diambil Dari Batu Pemecah Ombak Yang Ada di Pantai (2)” menceritakan tentang pembangunan Theme Park yang batu pondasinya diambil dari batu pemecah ombak yang ada di pantai dan juga menceritakan tentang pintu gerbang masuk yang jadi momok kontroversial di kalangan masyarakat sekitar.

Pada bagian yang ketiga ini, redaksi menceritakan tentang kekesalan masyarakat sekitar yang merasa tertipu dan terzholimin oleh pemerintah Kabupaten yang berkuasa pada masa pembangunan theme park dan juga hutan lindung yang beralih kepemilikan.

Masih dengan nara sumber dari masyarakat sekitar (red) menceritakan bahwa masyarakat pantai cermin tertipu dan terzholimin oleh pemerintah Kabupaten serdang Bedagai yang masa itu Bupatinya T. Eri Nuradi dan Wakilnya Sukirman antara lain :

1. Pondasi Theme Park yang memakai Batu Pemecah ombak digemboskan pada saat itu oleh oknum tak bertanggung jawab akan diganti yang baru setelah Theme Park selesai.

2. Theme Park pada awal pembangunannya diisukan ke masyarakat bahwa milik Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai tapi dikelola oleh pihak sawasta yang pada pengelolaan awalnya dikelola oleh WNA asal Malaysia. Tetapi kenyataannya Theme Park saat ini memang milik swasta dan walaupun secara tertulis masyatakat belum atau tidak melihat kepemilikan aslinya tapi terdengar bahwa pemiliknya saat ini adalah mantan pejabat T. EN, Skn, dan As yang saat ini merupakan salah satu anggota DPRD Aktif di Kab. Serdang Bedagai. Jadi yang Yang pasti Theme Park bukan milik Pemerintah.

3. Wilayah hutan lindung yang selalu digemboskan dimasyarakat mulai dari pantai sampai 300 meter ke darat yang tidak bisa dikelola menjadi milik pribadi bahkan tidak bisa berdiri bangunan, kenyataannya Theme Park merupakan bangunan permanen yang berdiri diatas Lahan Hutan Lindung. Dan sisanya Hutan Lindung yang dulu ditanam mangrove bahkan jika masyarakat mengambil kayu atau menebang ranting pohon mangrove tersebut ada larangan. Tetapi sekarang hutan mangrove tersebut terdengar sudah dimiliki oleh AS yang merupakan salah satu Anggota DPRD Kab. Serdang Bedagai.

4. Kuburan keramat maupun kuburan masyarakat kemungkinan besar akan hilang dihantam ombak yang semakin lama daratan bibir pantai terkikis olah ombak yang tidak ada lagi batu pemecah ombaknya di laut.

5. Kehadiran Theme Park sendiri tidak menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Selain Theme Park milik swasta, pintu gerbang Theme Park sejatinya dibangun di jalan menuju kawasan hutan lindung dan kuburan masyarakat, otomatis jalan lingkungan masyarakat sudah diklaim oleh milik Theme Park sebagai miliknya, sebab masyarakat melewati jalan tersebut bahkan untuk ziarah harus bayar atau harus adu argumen dulu dengan petugas jaga pintu gerbangnya yang terdiri dari personil polisi dan ada juga personil koramil.

6. Kontribusi Theme Park terhadap musholla saat ini yang berada di sekitar pantai tidak ada sama sekali. Kecuali Theme Park pada masa dikelola oleh WNA Malaysia. Musholla tersebut masih sering direhab dan diperhatikan.

Persoalan ini sebenarnya sudah kami laporkan secara tertulis kepada pemerintah Provinsi Sumatera Utara beberapa waktu lalu, tetapi sampai saat ini kami belum menerima tanggapan dari surat tersebut” Terangnya secara terperinci. (Bersambung…..)

Penulis : Muhammad Arifin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *