Hanya 3 Point Saja, Perwal Kota Medan Ini Susah Untuk Diterapkan, Siapa Yang Salah?

Medan (mediakomentar.com) – Mendambakan kehidupan di Kota yang besar dengan segala peraturannya yang diberlakukan untuk kemajuan dan keindahan kota, ternyata tidak bisa di terapkan di Kota Medan Sumatera Utara.

Peraturan Walikota (Perwal) Medan no. 9 tahun 2009 yang tujuannya untuk agar Kota Medan menjadi Kota Metropolitan dengan tertata rapi dan teratur, tidak bisa di terapkan. Jika dilihat dari tahun terbitnya peraturan ini (Tahun 2009), usia peraturan ini sudah mencapai 11 tahun.

Selama 11 tahun berjalan, Kota Medan sudah silih berganti yang jadi Pemimpin. Baik pemimpin dibidang Ekskutif, Legislatif maupun Yudikatif. Dan untuk Presiden sudah 3 kali Pemilu.

Tapi kenyataannya, apakah kota medan dengan pemerintahan dan masyarakatnya selama 11 tahun belakangan ini sudah berhasil melakukan dan menerapkan Peraturan Walikota Medan no. 9 Tahun 2009 tersebut? Jika dilihat dari luasnya wilayah Kota, mungkin hanya sekitar bagian kecil saja dari wilayah kota medan yang berhasil diterapkan. Dan itupun berada daerah perkantoran walaupun tidak menyeluruh. Sebab masih ada juga di sekitar perkantoran yang melanggar Perwal ini.

Dilansir dari Antara, 14 Januari 2019 Kota Medan mendapat predikat Kota terkotor versi kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Jika saja Perwal Kota Medan ini berhasil diterapkan di wilayah Kota Medan, sudah bisa dibayangkan Kota Medan akan nampak Asri dan tertata rapi serta indah di pandang.

Tetapi jika sebaliknya yang terjadi yaitu dilanggar peraturan itu, akan membuat Kota Medan menjadi sembrawutan dan drainasepun banyak yang tersumbat yang bisa menimbulkan banjir di jalanan Kota Medan karena. Sementara disaat banjir tersebut, sungai yang melintasi Kota Medan tidak banjir. Ditambah lagi akan banyak nyamuk yang berkembang biak di daerah drainse yang tersumbat.

Pertanyaannya. Apakah Pemko Medan yang salah dalam menegakkan peraturan atau malah sebaliknya, memang masyarakatnya tidak perduli adanya Perturan dari Pemko Medan tersebut? Kenyataannya, jika Pemko Medan dengan petugasnya mau menegakkan Perwal tersebut, selalu ada perlawanan dari masyarakat itu sendiri dengan segala alasan yang di argumenkan.

Pertanyaan yang muncul lagi. Mengapa masyarakat kota Medan berani dan tidak merasa malu melanggar Perwal Kota Medan no. 9 Tahun 2009 tersebut? Disini kami selaku media tidak bisa memaparkan secara rinci. Tetapi kesimpulan informasi yang kami dapat bahwa:

  1. Masyarakat berani dan tidak merasa malu karena perbuatan yang sama yang di lakukan warga kota medan yang dengan melanggar Perwal tersebut sudah banyak menjamur didaerah wilayah Kota Medan
  2. Masyarakat berani dan tidak merasa malu karena perbuatannya karena merasa dirinya hebat danada yang membekingi, baik itu dari oknum Preman maupun aparatur Pemerintah yang nakal.
  3. Alasan ekonomi, jika masyarakat beli lapak jualan yang ditetapkan Pemko Medan banyak yang tidak mampu.
  4. Lapak jualan yang didirikankan (PK-5) berada dilokasi rumahnya atau lingkungan tempat dia tinggal.
  5. Dan lebih ironis lagi, ada istilah yang berkembang di masyarakat kalau peraturan itu dibuat untuk dilanggar.
  6. Aparatur pemerintah saat menegakkan peraturan selalu mendapat resiko berbentuk perlawanan fisik, makian bahkan ancaman dan bahkan akan di laporkan secara pidana kepihak aparatur hukum dengan alasan melanggar HAM. Sementara pihak aparatur Pemerintah juga mempertimbangkan kehidupan keluarganya juga.
  7. Keluhan Aparatur Pemerintah “kerja menegakkan Peraturanpun bisa diancam dan di laporkan secara pidana. Apa jaminan hidup untuk kami?”

Redaksi menulis artikel ini tujuannya bukan mencari pembenaran, hanya semata-mata menggambarkan bahwa mencoba untuk menguraikan situasi yang telah terjadi dilapangan. Guna untuk menjadi renungan dan kajian kita bersama. Apakah Peraturan Walikota Medan no. 9 Tahun 2009 akan tetap mau ditegakkan atau harus dicabut dan diganti dengan Perwal yang? Minggu (7/6). (redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *