Drs.H. Yusman Buchari, MM : Keresahan Warga, Pemko Medan Harus Jeli Terkait Pembangunan RS. Regina Mandiri Husada

Medan, Sumut (mediakomentar.com) – Pembangunan RS. Regina Mandiri Husada beralamat di Jl. Brigjen Katamso Medan tepatnya di lokasi SPBU Singapura lama yang membuat keresahan warga sekitar, akhirnya mendapat tanggapan serius dari Drs. H. Yusman Buchari, MM.

Dalam keterangannya kepada media melalui selular, Drs.H.Yusman Buchari, MM.Yang dulunya pernah menjadi seorang Pejabat di Pemko Medan semasa aktif sebagai ASN yang saat ini berprofesi di bidang media dan salah seorang Penasehat Organisasi Pers Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Sumut mengatakan bahwa:

“Sebaiknya stakeholder yang mendapat  amanah menduduki jabatannya  dari Walikota Medan dalam menjalankan tugasnya, sangat mengerti dan paham. melindungi warganya, apalagi dimasa era pandemi Covid-19 yang berdampak pada lesunya perekonomian saat ini.

Pembangunan RS. Regina Mandiri Husada di lingkungan pemukiman warga yang terletak di Lingkungan IV dan V Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun telah membuat resah dan menuai protes 30 Kepala Keluarga (KK) dilokasi tersebut.

Jadi diharapkan, Pihak stakeholder yang terkait di Pemko Medan seharusnya jeli dan tidak asal mengeluarkan izin. Mereka harus melakukan kajian yang dalam terhadap dampak yang ditimbulkan di masyarakat terutama kepada warga yang berdekatan dengan proyek besar itu.

Demikian juga dalam mengeluarkan perizinan atau SIMB apakah memang sudah sesuai Undang-undang dan Perda dan bagaimana Amdalnya, apakah memungkinkan ditengah pemukiman padat penduduk atau tidak?

“Janganlah masyarakat lagi menjadi korban di tengah situasi pandemic-19 yang telah membuat ekonominya menjadi terpuruk. Di tambah lagi dampak yang ditimbulkan saat pengerjaan bangunan sudah bermasalah, bagaimana lagi nanti setelah beroperasi, ini akan menimbulkan masalah yang berkepanjangan,” jelas Yusman yang berdomisili juga mengaku tidak jauh dari lokasi pembangunan RS swasta tersebut.

Harus segera dicarikan solusinya dan jangan biarkan terus berlanjut, apalagi permasalahan ini sebelumnya sudah ada diterbitkan beberapa media. Duduk bersama antara masyarakat dan pengembang apalagi difasilitasi oleh Pemerintah dan menghadirkan pihak terkait, mungkin permasalhan ini akan dapat diselesaikan dan dicari win-win solutionnya (Jalan keluarnya).

“Jika memang pihak TRTB melanggar aturan dalam memberikan izin ini harus diambil tindakan tegas agar hal ini tidak terulang lagi dalam pembangunan proyek besar di tengah-tengah pemukiman warga,” imbuh Yusman pendiri Media Online

Kepada awak media Yusman juga mengatakan kalau dirinya yang saat itu tinggal bersama orang tuanya pernah tinggal satu lingkungan dengan ibundanya Boby Afif Nst yang masih tinggal bersama orang tuanya di Kelurahan Teladan Barat Kecamatan Medan Kota.

“Saya tahu betul keluarga Ibunda Bobby Nasution orang lama di Kelurahan Teladan Barat Kecamatan Medan Kota sama dengan orangtua saya dulu. Jadi kalau Bobby Nasution sudah duduk menjadi Walikota Medan hal ini semakin cepat terselesaikan dan harapan dan tuntutan warga bakal terpenuhi,” tegas Yusman optimis.

Menjawab pertanyaan aksi yang dilakukan masyarakat jika tuntutannya tidak terpenuhi, Yusman meminta dilakukan sesuai peraturan dan perundang-undangan. Kalaupun mau mengajukan protes dan menggelar aksi minta izin pihak terkait dan dilakukan dengan damai, tegasnya.

Seperti pemberitaan sebelumnya, sebanyak 30 Kepala Keluarga (KK) Lingkungan IV dan V Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun resah dan memprotes pengerjaan pembangunan RS  Regina Mandiri Husada  yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso Medan.

Ketua Forum Masyarakat Terkena Dampak Bangunan RS Regina Mandiri Husada (FORMARIS) Hasan didampingi Sekretarisnya Firdaus ketika dihubungi  wartawan, Jumat (18/2/2021) menyebutkan, sejak pengerjaan pembangunan mulai dikerjakan bulan  Juni 2020 oleh Developer Paku Bumi, masyarakat terkena imbasnya selain suara ribut dan bising sepanjang hari juga getaran yang ditimbulkan membuat rumah dan dinding warga menjadi retak.

Tidak itu saja, lantai keramik warga sebagian besar juga pecah dan retak serta air sumur warga kering dan keruh akibat sedotan di lokasi juga menimbulkan tanah liat yang sangat mengganggu keberadaan warga yang sebelumnya tidak pernah seperti itu.

“Kami sudah cukup sabar dan menahan diri, tetapi oleh pihak Developer Pasak Bumi tidak memperdulikannya walaupun warga sudah mengajukan protes secara tertulis melalui kepala Lingkungan bermarga Harahap,” beber Hasan kesal sembari menambahkan memang ada pihak pengembang memplaster bebeberapa rumah warga saja dengan menempel semen seadanya saja.

Ironisnya, jelas Hasan lagi, belum jelas perbaikan rumah itu, masalah timbul lagi dengan pengerjaan yang dilakukan Developer PT Prima Abadi menggunakan beberapa unit Crane panjang yang melewati atap rumah warga yang sangat mencemaskan karena takut tertimpa dan rubuh setiap saat.

Hasan menyebutkan, pada prinsipnya kami dari Formaris dan masyarakat menolak keberadaan bangunan RS Mandiri Husada karea berada di Kawasan RI adalah kawasan Zona Perumahan kepadatan tinggi  sesuai dengan Peta Rencana Pola Ruang dan Zonasi Kecamatan Medan Maimun sesuai dengan Perda Kota Medan No 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan peraturan Zonasi Kota Medan tahun 2015-2035.

Disamping itu, Kegiatan proyek bangunan Rumah Sakit Regina Mandiri Husada juga mengakibatkan kerugian terhadap harta benda dan barang masyarakat yang terkena dampaknya. “Dalam waktu dekat ini  kami akan melayangkan surat keberatan kepada Gubsu, Kapoldasu, Walikota Medan, Ketua DPRD Medan, Ketua Komisi $ DPRD Medan, Camat Medan Maimun, Lurah Sei Mati dan pihak terkait lainnya, jelas Hasan.

Secara terpisah Ketua KNPI Kecamatan Medan Maimun Amri Tanjung didampingi Sekretaris Arsini ketika dihubungi, mengakui keresahan masyarakat terhadap pembangunan Rumah Sakit Regina Mandiri Husada tersebut.

Menanggapi keluhan warga itu, Amri Tanjung, mengatakan, pihak pengembang jangan menunda dan harus segera meralisasikan keresahan warga yang rumahnya terdampak kerusakan dengan pengerjaan pembangunan tersebut.

Selain itu, jelasnya lagi, pihak Rumah Sakit Regina Mandiri Husada atas permintaan warga yang terkena dampak pengerjaan proyek bangunan itu, melakukan konpensasi sebesar Rp10 miliar dan merealisasikannya dalam waktu sepekan ini. (EI)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: