Dampak Pandemi Covid-19, Jeritan Kehidupan Seniman Tidak Diperhatikan

Medan (mediakomentar.com) – Dampak dari wabah virus Covid-19 yang melanda Indonesia, membuat segala sektor usaha mengalami kemunduran dan bahkan banyak karyawan yang di rumahkan dan PHK.

Intinya segala sektor profesi dalam mencari rizqi terasa dampaknya terhadap penghasilan keuangan untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Program bantuan yang diberikan pemerintah untuk rakyat yang terkena dampak dari Pandemi Covid-19 memang bagus dan benar, tetapi kurang pas sasarannya. Dan hal ini dikatakan oleh Bang Erwan sewaktu di tanya tanggapannya selaku Pegiat Seni (seniman)yang berdomisili di Kota Medan Sumatera Utara, Jumat (5/6).

“Memang bagus, tapi kurang pas sasarannya. Kami selaku pegiat seni khususnya yang berada di Sumatera Utara ini merasa terabaikan dan tidak masuk hitungan untuk mendapatkan bantuan. Terkesan bagi yang mendata untuk mendapatkan bantuan dilihat dari kulitnya saja” jelasnya.

Sewaktu ditanya, apa yang dimaksud dilihat dari kulitnya saja. Bang Erwan yang merupakan tokoh Seni yang sering mempepulerkan kesian khususnya di Sumatera Utara sampai ke Manca Negara ini mengatakan.

“ Banyak yang kita lihat bahwa yang mendapat bantuan itu dilihat dari luarnya saja, seperti salah satu contohnya dilihat bentuk rumahnya. Jika tidak permanen atau Semi permanen bahkan lebih condong agak reot, sudah pasti dapat bantuan. Dan andaikata jika rumah itu permanen ataupun semi permanen tetapi tertata rapi dan indah, pasti tidak akan mendapatkan bantuan. Padahal bisa jadi rumah itu kredit, sewa atau rumah warisan. ” jelasnya lagi.

Sambil mengucaokan kata maaf kepada media bang erwan ini juga mengatakan

“maaf ya kami para seniman, walau benda itu tidak berharga dimata orang lain karena rupanya yang kurang menarik. Kami pasti akan mempolesnya menjadi lebih menarik. Dan itu pasti akan kami lakukan selaku kami mempunyai jiwa seni. Walau rumah dari gedek atau papan sekalipun akan kami buat indah di pandang mata dan nyaman utnuk ditinggali. Tapi keindahan itu, saat pandemi covid-19 ini membuat kami para seniman banyak tidak mendapat bantuan” ungkapnya

“kami para seniman saat pandemi covid-19 melanda, profesi kami sebagai pegiat seni hancur total. Jelas profesi kami menarik orang untuk berkumpul. Manalah mungkin kami manggung tidak ada orang yang menontonnya. Karya seni kami harus di pertontonkan agar laku. Sementara selama pandemi larangan berkumpul dan melakukan kegiatan untuk menghindari penyebaran covid-19 ini sudah ada. Bahkan untuk seniman musik yang biasa manggung di cafepun akhirnya kehilangan job dan praktis tidak ada penghasilan sama sekali dan begitu juga untuk manggung diacara pesta kawin maupun diacara yang lainnya” terangnya lagi dengan sedikit nada lemas.

Dengan mengangkat tangan sambil menunjuk Ojek On Line (Ojol) beliau mengatakan

“lihatlah itu, saat ini profesi sebagai supir Ojol masih bisa berjalan dan berusaha. Bahkan untuk profesi lain seperti pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan masih bisa melakukan kegiatan usahanya berusaha. Tapi kami dengan beberapa pegiat seni lainnya sudah tidak bisa lagi mempertontonkan karya seni kami demi mencari rizqi untuk kehidupan diri dan keluarga kami. Sementara secara pribadi, saya saja tidak didata untuk mendapat bantuan tersebut. ” pungkasnya sambil menutup pembicaraan (red)

Tinggalkan Balasan